Kamis, 23 Mei 2013

Metode chi square



A.  Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui cara pengolahan data dengan tes X2, untuk mengetahui besarnya divisiasi yang terjadi pada percobaan yang telah dilakukan dan untuk menentukan kebenaran atau tidaknya percobaan yang telah dilakukan
B.  Dasar Teori
Probabilitas atau istilah lainnya kemungkinan, kebolehjadian, peluang dan sebagaimya umumnya digunakan untuk menyatakan peristiwa yang belum dapat dipastikan. Dapat juga digunakan untuk menyatakan suatu pernyataan yang tidak diketahui akan kebenarannya, diduga berdasarkan prinsip teori peluang yang ada. Sehubungan dengan itu teori kemungkinan sangat penting dalam mempelajari genetika. Kemungkinan atas terjadinya sesuatu yang diinginkan ialah sama dengan perbandingan antara sesuatu yang diinginkan itu terhadap keseluruhannya. Kemungkinan peristiwa yang diharapkan ialah perbandingan dari peristiwa yang diharapkan itu dengan segala peristiwa yang mungkin terjadi terhadap (Suryo, 1994).
Metode chi square adalah cara yang dipakai untuk membandingkan data percobaan yang diperoleh dari persilangan. Persilangan dengan hasil yang diharapkan berdasarkan hipotesis secara teoritis. Teori kemungkinan merupakan dasar untuk menetukan nisbah yang diharapka dari tipe-tipe persilangan genotip yang berbeda. Suatu persilangan antara sesama individu  dihibrid (AaBb) menghasilkan keturunan yang terdiri atas empat macam fenotipe, yaitu A-B-, A-bb, aaB-, dan aabb masing-masing sebanyak 315, 108, 101, dan 32.  Untuk menentukan bahwa hasil persilangan ini masih memenuhi nisbah teoretis ( 9 : 3 : 3 : 1 ) atau menyimpang dari nisbah tersebut perlu dilakukan suatu pengujian secara statistika. Uji yang lazim digunakan adalah uji X2 (Chi-square test) atau ada yang menamakannya uji kecocokan (goodness of fit) (Wildan, 1991).
Untuk mengevaluasi suatu hipotesis genetic, kita memerlukan suatu uji yang dapat mengubah deviasi-deviasi dari nilai yang diharapkan, menjadi probabilitas dari ketidaksamaan demikian yang terjadi oleh peluang. Selain dari pada itu, uji ini harus pula memperhatikan besarnya sampel dan jumlah peubah (derajat bebas). Sebagai uji X2 (Chi Square Test). Uji chi-kuadrat atau chi-square digunakan untuk menguji homogenitas varians beberapa populasi atau merupakan uji yang dapat mengubah deviasi dari nilai-nilai yang diharapkan menjadi probabilitas dari ketidaksamaan demikian yang terjadi oleh peluang dan harus memperhatikan besarnya sampel dan besarnya peubah (derajat bebas) ( William, 1991).
Pada tabel tersebut di atas dapat dilihat bahwa hasil percobaan dimasukkan ke dalam kolom O sesuai dengan kelas fenotipenya masing-masing. Untuk memperoleh nilai E (hasil yang diharapkan), dilakukan perhitungan menurut proporsi tiap kelas fenotipe.  Selanjutnya nilai d (deviasi) adalah selisih antara O dan E.  Pada kolom paling kanan nilai d dikuadratkan dan dibagi dengan nilai E masing-masing, untuk kemudian dijumlahkan hingga menghasilkan nilai X2h atau X2 hitung.  Nilai X2h inilah yang nantinya akan dibandingkan dengan nilai X2 yang terdapat dalam tabel X2 (disebut nilai X2tabel ) yang disingkat menjadi X2t.  Apabila X2h lebih kecil daripada X2t dengan peluang tertentu (biasanya digunakan nilai 0,05), maka dikatakan bahwa hasil persilangan yang diuji masih memenuhi nisbah Mendel. Sebaliknya, apabila X2h lebih besar daripada X2t, maka dikatakan bahwa hasil persilangan yang diuji tidak memenuhi nisbah Mendel pada nilai peluang tertentu (biasanya 0,05) (Borror, 1992).
C.  Metode Praktikum
Adapun metode praktikum yaitu:
1.      Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu lup, pinset, dan alat tulis menulis.
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu alkohol, kapas, kertas , Drosophila jantan dan Drosophila betina.
2.      Cara Kerja
Adapun cara kerja pada praktikum ini yaitu:
a.       Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan.
b.      Mengeluarkan lalat-lalat dari botol kultur pemeliharaan  secara satu persatu dan mengamati dengan menggunakan lup secara sekilas.
c.       Membedakan antara jantan dan betina dan menghitung jumlah masing-masing jenis kelamin.
d.      Membuat analisis dan kesimpulannya.
3.      Tempat dan Waktu
Adapun waktu dan tempat dilakukannya praktikum ini yaitu :
Hari/ Tanggal    : Rabu/ 23 Januari 2013
Pukul                : 13.00 – 15.00 WITA
Tempat             : Laboratorium Zoologi lantai II
Fakultas Sains dan  Teknologi
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Samata-Gowa.
D.  Hasil Pengamatan
Table 1. Chi Square Test
Lalat Jantan
       
Lalat Betina
       
Jumlah
o
100
80
180
E
90
90
180
D
10
-10
0
X2








d2/e      =          (10)2  +   (10)2
                          90            90
            =          100     +   100
                          90            90 
            =          200    = 2,2
                          90
ab        =          2-1     =  1
            =          0,30 mendekati 1

E.  Pembahasan
Metode chi square adalah cara yang dipakai untuk membandingkan data percobaan yang diperoleh dari persilangan. Persilangan dengan hasil yang diharapkan berdasarkan hipotesis secara teoritis. Teori kemungkinan merupakan dasar untuk menetukan nisbah yang diharapka dari tipe-tipe persilangan genotip yang berbeda. Untuk menentukan bahwa hasil persilangan ini masih memenuhi nisbah teoretis ( 9 : 3 : 3 : 1 ) atau menyimpang dari nisbah tersebut perlu dilakukan suatu pengujian secara statistika. Uji yang lazim digunakan adalah uji X2 (Chi-square test) atau ada yang menamakannya uji kecocokan (goodness of fit).
Pada pengamatan yang telah dilakukan maka diperoleh hasil dimana lalat buah jantan berjumlah 80 ekor dan lalat buah betina berjumlah 100 ekor. Maka diperoleh hasil kemungkinannya yaitu 2,2. Berdasarkan tabel angka yang terletak sesudah 0,30 ini berarti bahwa nilai kemungkinannya mendekati 1. Faktor kemungkinan sedikit berpengaruh karena faktor lain yang lebih dominan yang menyebabkan penyimpangan.
Dalam perhitungan juga harus diperhatikan derajat kebebasan, yang nilainya sama dengan jumlah kelas fenotip dikurangi 1. Jadi jika pada persilangan monohibrid menghasilkan keturunan dengan perbandingan 3 : 1 berarti ada dua kelas fenotip, sehingga derajat kebebasan = 2-1= 1. Menurut para ahli statistika, khusus untuk kelas 2 fenotip perlu diterapkan koreksi Yates pada nilai deviasi yaitu mengurangi nilai deviasi dengan 0,5. Apabila nilai yang diperoleh dari perhitungan terletak di bawah kolom kemungkinan 0,05 atau kurang (0,01 atau 0,001), berarti faktor kebetulan hanya berpengaruh sebesar 5% atau kurang. Dan berarti ada faktor lain yang berperan dan lebih berpengaruh pada kejadian tersebut, sehingga data percobaan tersebut dinyatakan buruk.
Pada praktikum tersebut memperoleh hasil yang mendekati 1 yang berarti dalam keadaan baik.
F.   Kesimpulan
Metode chi square adalah cara yang dipakai untuk membandingkan data percobaan yang diperoleh dari persilangan. Persilangan dengan hasil yang diharapkan berdasarkan hipotesis secara teoritis. Pada metode chi square menggunakan rumus X2=∑(d2/e). Pada pengamatan yang telah dilakukan maka diperoleh hasil dimana lalat buah jantan berjumlah 80 ekor dan lalat buah betina berjumlah 100 ekor. Maka diperoleh hasil kemungkinannya yaitu 2,2. Berdasarkan tabel angka yang terletak sesudah 0,30 ini berarti bahwa nilai kemungkinannya mendekati 1 yang berarti dalam keadaan baik.
G. Daftar Pustaka
Borror. Pengenalan Pengajaran serangga. Yogyakarta : UGM Press, 1992.
Yatim, Wildan. Genetika. Bandung : Tarsito, 1991.
Suryo. Genetika Manusia. Yogyakarta : UGM Press, 1994.
Stanfield, D. William. Genetika Edisis kedua. Jakarta : Erlangga, 1991.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar